Senin, 06 April 2015

WOW,Bocoran Soal



                                                                Wow, Bocoran Soal!
                                                          Oleh: Nova Syafira Ariyanti
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .  . . .  . .
            Hari Rabu pagi,di pojokan kantin, Rahmi, Rio dan Dina berkumpul di meja paling ujung.Dina terlihat sedang asyik membaca buku sosiologi, Rahmi seperti biasa sedang memakan semangkuk bakso dengan Rio.  Aldi asyik membaca komiknya. Tiba-tiba,terlihat Sita memasuki kantin dengan langkah tergesa gesa menghampiri ketiga temannya itu.
            “Woi,gue punya berita hebat!”
            “Mmm…?” sahut Rahmi dengan mengunyah bakso.
            “Berita apaan?” Rio bertanya dengan bersemangat.
            “Dasar! pagi-pagi begini dah ngegosip,” kata Dina malas
            “Siapa yang ngegosip? Dina-nya aja denger kata ‘berita’ sedikit,langsung semangat.
Berita gue lebih penting dari pda gossip.Woi,dengerin doong!”
            “Iya … iya … apaan?” Tanya Aldi
            “Katanya Arga punya bocoran soal ujian nanti.Gimana?”
            “Gimana apanya?” Tanya Rahmi
            “Lo pada mau enggak?”
            “Enggak tertarik …” kata-kata Dina terputus oleh Sita
            “Aku gak minat” sahut Rio
            “Gue gak nawarin lo kok Din lo juga rio,” lanjut Sita memotong ucapan mereka
            “Mm … asyik ,sih ,kayaknya.Tapi,enggak deh,” Aldi Menolak
            “Gue juga enggak deh Sit,kalau ada jawabannya, sih ,boleh,” tolak Rahmi
            “Ah kalian, ya udah kalu emang enggak mau. Gue sendiri aja, deh.”
            “Sit, apa enggak lebih baik jangan..?” Dina berkomentar
            “Lo ngomong, sih,enak. Gue kan enggak pinter kayak lo, Din. Udah ah,gue mau nyari Arga dulu., kalian jangan nyesel yah?” Sita lalu berjalan meninggalkan teman-temannya yang sedang saling bertukar pandangan.
            “Gak akaaaaaaan??” teriak Aldi
                                                            ***
            Sita berjalan di sepanjang koridor sekolah. Pandangannya tertuju ke segala arah untuk mencari Arga, sampai akhirnya orang yang dicarinya itu terlihat di depan kelasnya.Segera Sita meghampiri Arga.
            “Ga, denger-denger lo punya soal ujian.Bener?”
            “Eh, Sita. Ada apa tiba-tiba nanya gitu?”
            “Kalau lo beneran punya,gue mau dong…”
            “Oo … iya ada. Wani piroooo? “Seratus ribu buat satu pelajaran, gimana?”
            “Hah?! Mahal banget, Ga ….”
            “Kalau emang enggak mau , ya, enggak apa-apa.”
            “Eh, tunggu-tunggu … mmm, gue pikirin dulu, ya.”
            “Ya udah, tapi cepet ya … soalnya enggak gue bikin banyak.”
Sita pun kembali ke kantin. Teman-temannya masih berkumpul di sana.
            “Giamana,Sit? jadi minta soal ujiannya?” Tanya Rahmi sambil sedikit menahan tawa
            “Enggak tau deh, mahal banget.Seratus ribu per pelajaran, gila aja?”
            “Daripada untuk bocoran soal, medingan buat makan Sit,” kata Dina.
            “Kalo dibuat beli kerupuk juga dapat se-mobil? Hahahaha” Sahut Rio
            “Bener Sit, enggak ada gunanya lo ngambil bocoran soal itu? Mending belajar aja?” tambah Rahmi.
            “Enggak tau deh, masih bingung akunya? Udah deh yaa aku balik ke kelas dulu” kata Sita sambil pergi meninggalkan kantin Karena bel masuk berbunyi. Hari ini, Sita lewatkan di pikirannya memikirkan bocoran soal itu.
                                                            ***
            Sore hari, di kamar Sita.Buku pelajaran dan bahan untuk belajar itu bertebaran di atas kasur.Tapi, Sita bukan belajar.Sita hanya duduk di pinggir sambil memikirkan tawaran untuk mengambil bocoran soal itu.Sebagian dari pikirannya memutuskan untuk mengambilnya,dia juga ragu-ragu. “Ambil gak yaah? Kalau diambil hasil pasti bagus tapi  kalau mendengar reaksi teman-temannya di sekolah.Gimana ya? Ambil, enggak, ambil, enggak, amb … aduuuuh, binguuuuuung! Sita berpikir dengan pikirannya sendiri.
            “Gimana, ya, enaknya … ambil jangan? Kalu di ambil, nilai gue pasti bagus.Tetapi, nanti anak-anak pada marah. Ah, kalau pada marah masih bisa gue balikin, sementara nilai gue enggak bisa di apa-apain lagi soal yang Arga punya kan belum tentu asli. Kalau nanti gue ditipu gimana? Sampai beneran gue ditipu kan repot, melayang nilai juga enggak dapet.Mmm gimana, ya? Apa enggak usah aja?”
            Sita pun mengambil telepon yang terletak di samping tempat tidurnya, lalu menekan nomor telepon Dina .Setelah  beberapa kali terdengar nada sambung,telefon diangkat dan terdengarlah suara Dina.
            “Halo, ada apa sita? Tumben nih telpon?”
            “hmmmm.. anu.. soal bocoran tadi, din?”
            “hah? Lo jadi ambil sit?”
            “nah, aku masih bingung ini?”
“mending gausah laah? Kan belum tentu asli juga?”
“iya juga siih? Yaudahlah.. aku telpon Arga dulu”
“oke deh, byee” kata Dina sambil menutup telpon
Sita pun bergegas menelepon Arga, lalu menenekan nomor telepon Arga.Setelah  beberapa kali terdengar nada sambung,telefon diangkat dan terdengarlah suara Arga.
“Halooo? Siapa yah?”
“Ga, ini gue Sita. Soal yang tadi itu enggak jadi ambil deh.”
“Beneran lo enggak mau? Masih ada lagi nih, ada Fisika, Matematika, Kimia, Biologi sama Bahasa,” Arga kembali menawarkan soal itu.
            “Enggak deh Ga, maaf ya.”
            “Ya udah, tapi nanti jangan nyesel”
            “Iya. Makasih ya, Ga.” Sita menutup telepon
            Walaupun sudah memutuskan tidak Menerima tawaran itu, tetap saja memikirkan seandainya ia Menerima.Gimana enggak?  Dengan memiliki ujian yang akan keluar itu, dapat dibayangkan nilainya akan sangat baik.Tapi, kalu mengeluarkan uang sebanyak itu dan telah lagi mengecewakan teman-temannya lebih baik ia tidak mendapat nilai bagus.Sita membanting dirinya ke atas tempat tidurnya sambil mengambil buku Fisika dan mulai membukanya.
            “Tapi, asyik juga ya kalau bisa dapet bocoran itu, hehe.”
                                                                        ***
            Hari-hari ujian selesai sudah. Sita dan kawannya, seperti biasa berkumpul di pojokan kantin. Saat-saat seperti inilah yang paling membuat Sita semangat pergi ke sekolah. Seandainya waktu itu ia Menerima tawaran Arga dan mengambil bocoran soal itu, mungkin ia akan menikmati nilai bagunsya, tetapi tanpa teman-temanya. Sita membuka pembicaraan.
            “Akhirnya, ujian beres juga. Lewat juga hari-hari enggak bisa Online”
            “Emang selama ujian lo enggak Online,Sit?” Tanya Dina
            “Enggak dong … kenapa?Enggak percaya?”
            “Diragukan, tapi kalau liat ekspresi lo selama ujian,gue percaya.” Sahut Rahmi
            “Emang ekspresi gue kayak gimana?”
            “Ekspresi lo kayak monyet joget-joget kayak boyband! Hahahah” sahut Rio
            “hahahahaha.. bisa aja kamu” jawab Aldi
“Lo pernah liat Rahmi waktu komiknya hilang? Nah, kayak gitu ekspresi lo!” Rahmi menjawab
            “Hehe, yang udah biarin udahlah, yang penting sekarang bebaaaas!”
“Beneeerr, aku mau nyari komik lagi nih? Rio ntar temenin aku yah?”
“Okee Coy!” 
            “Oh iya Sit, lo enggak jad ngambil bocoran soal kan?” Tanya Uti
            “Enggak jadi, kenapa?”
            “Bagus, deh!kemarin gue denger,soal yan dari Arga itu palsu.”
            “Hah? Palsu Gimana?”
            . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

Tidak ada komentar :

Posting Komentar